Bayangkan ini: Kamu lagi rebahan di kasur, sambil scrolling aplikasi travel jam 9 malam. Tiba-tiba mata kamu tertarik pada satu hotel dengan nuansa lampu temaram berwarna oranye hangat. Rasanya cozy. Nyaman. Seperti "rumah kedua".
Lalu besok paginya, sekitar jam 7, kamu buka aplikasi yang sama. Hotel itu masih ada. Tapi kali ini, kamu malah lebih tertarik pada kamar dengan nuansa biru dingin yang bersih dan modern.
Aneh?
Bukan. Ini sains.
Waktu Bukan Cuma Penentu Harga, Tapi Juga "Selera" Kamu
Sejak pandemi, hampir semua orang terbiasa memesan hotel lewat aplikasi. Kita jadi mengandalkan foto-foto kamar untuk memutuskan. Dan dalam foto-foto itu, warna adalah raja. Para peneliti bahkan menyebutkan, warna menyumbang sekitar 80% dari proses pengambilan keputusan visual. Bayangkan, 80 persen!
Tapi pertanyaannya: kenapa kadang kita suka warna biru, kadang lebih suka warna orange?
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Xiamen University, China, melibatkan lebih dari 1.400 partisipan dan menganalisis hampir 4.500 foto hotel. Hasilnya mengejutkan dan sekaligus menjelaskan misteri kecil yang selama ini mungkin kamu rasakan tanpa sadar.
Preferensi warna itu dinamis. Ia mengikuti jam biologis kita.
Pagi Hari: Biru untuk "Aku Butuh Jadi Spesial"
Coba ingat pagi hari pertama kamu di hari libur. Biasanya kita bangun dengan semangat, pikiran segar, dan energi penuh. Saat itulah, menurut penelitian, kebutuhan akan keunikan mencapai puncaknya. Kita ingin merasa berbeda. Ingin memulai hari dengan sesuatu yang istimewa.
Di pagi hari, warna-warna dingin seperti biru, hijau, atau ungu muda lebih menarik perhatian daripada warna hangat. Peneliti bahkan membuktikannya dengan alat pelacak mata (eye-tracker). Saat peserta melihat foto hotel di pagi hari:
Mata mereka lebih lama menatap hotel berwarna dingin.
Mereka memberi lebih banyak fiksasi (konsentrasi pandangan) pada warna biru dibanding orange.
Bayangkan warna biru itu seperti secangkir kopi dingin yang menyegarkan di pagi hari. Rasanya bersih, modern, dan penuh optimisme. Cocok untuk memulai petualangan.
Dalam bahasa psikologinya: kebutuhan akan keunikan mendorong kita memilih hal-hal yang terasa "berbeda". Warna dingin sering diasosiasikan dengan modernitas, kebersihan, dan inovasi.
Malam Hari: Orange untuk "Aku Butuh Pulang"
Sekarang bayangkan suasana berbeda. Kamu sudah capek seharian bekerja atau berwisata. Matahari mulai terbenam. Tubuh mulai rileks. Di saat seperti ini, kebutuhan akan rasa memiliki muncul.
Kita jadi rindu suasana hangat. Nyaman. Seperti pelukan. Seperti rumah.
Penelitian yang sama menunjukkan, di malam hari, warna-warna hangat (merah, oranye, kuning) justru lebih kuat menarik perhatian. Peserta penelitian:
Lebih cepat "jatuh cinta" pada hotel dengan nuansa hangat di malam hari.
Menggambarkannya dengan kata-kata seperti "cozy", "nyaman", "seperti di rumah".
Dan yang menarik, mereka jadi kurang tertarik pada warna dingin yang sebelumnya sangat mereka sukai di pagi hari.
Ini seperti ketika hujan deras di luar, dan kamu memilih memesan makanan hangat di aplikasi ojol. Bukan karena kamu lapar saja, tapi karena ada kebutuhan akan kenyamanan.
Warna hangat di malam hari memenuhi kebutuhan psikologis kita akan koneksi dan kehangatan. Ini bukan soal selera visual semata, tapi soal kebutuhan batin.
Bonus: Pemandangan di Luar Jendela Juga "Bicara"
Ini bagian yang makin menarik. Penelitian juga menemukan bahwa pemandangan di foto kamar hotel bisa memperkuat efek ini. Dalam istilah peneliti: window view berperan sebagai "isyarat temporal periferal".
Maksudnya gampang:
Jika di pagi hari kamu melihat foto kamar hotel dengan jendela mencuatkan pemandangan siang hari, preferensi ke warna dingin makin kuat.
Jika di malam hari kamu melihat foto kamar dengan jendela pemandangan malam, preferensi ke warna hangat makin terasa.
Tapi hati-hati: kalau ada ketidakcocokan (misalnya pagi hari tapi foto menunjukkan pemandangan malam), efeknya justru melemah. Otak kita tidak suka ketidaksesuaian visual. Ini mirip ketika kamu mendengar musik dangdut di pagi hari yang seharusnya tenang — rasanya nggak nyambung, kan?
Tapi, Tidak Semua Orang Sama
Ada satu temuan penting lain dari penelitian ini: kronotipe. Istilah keren buat kebiasaan bangun tidur kita.
Kita bisa dibagi menjadi dua kelompok besar:
Morning Person (Orang Pagi) : Bangun lebih awal, produktif di pagi hari
Evening Person (Orang Malam) : Aktif di malam hari, susah bangun pagi
Nah, efek pergeseran warna ini lebih terasa pada orang pagi. Kenapa? Karena ritme sirkadian mereka selaras dengan waktu objektif. Jam biologis mereka benar-benar mengikuti matahari.
Sedangkan untuk orang malam? Efeknya lebih lemah. Jam biologis mereka agak "bergeser", sehingga preferensi warna mereka tidak terlalu terpengaruh oleh waktu.
Intinya: kalau kamu merasa pilihanmu selalu konsisten siang-malam, mungkin kamu termasuk evening person. Tapi kalau kamu merasakan perubahan drastis, kemungkinan kamu adalah morning person.
Apa Artinya Ini Buat Kita?
Bagi Kamu yang Sering Traveling
Sekarang kamu tahu: jangan percaya sepenuhnya pada selera visual saat itu juga. Jika kamu memesan hotel di malam hari, ada kemungkinan besar kamu lebih suka warna hangat. Besok pagi, kamu mungkin akan regret kenapa tidak pilih yang warna biru tadi.
Tips praktis: simpan dulu hotel favoritmu, lalu cek lagi besok paginya. Bandingkan perasaanmu. Pilihan yang paling "tenang" biasanya yang paling objektif.
Bagi Platform Aplikasi Travel (dan Pengembangnya)
Penelitian ini memberikan peluang besar untuk personalisasi berbasis waktu. Bayangkan:
Pagi hari: tampilkan lebih banyak hotel dengan foto warna dingin.
Malam hari: prioritaskan hotel dengan warna hangat.
Tambahkan filter berdasarkan pemandangan jendela yang sesuai waktu.
Ini bukan sekadar trik visual. Ini adalah strategi berbasis psikologi konsumen yang terbukti secara ilmiah. Hotel dan aplikasi travel yang menerapkan ini berpotensi meningkatkan konversi pemesanan secara signifikan.
3-5 Tahun ke Depan: Personalisasi Waktu Jadi Standar
Bayangkan masa depan:
Aplikasi travel-mu otomatis berubah warna sesuai jam.
Foto hotel yang muncul di halaman depan berbeda antara jam 7 pagi dan jam 9 malam.
Bahkan rekomendasi restoran dan aktivitas bisa disesuaikan dengan kebutuhan psikologismu saat itu.
Ini bukan fiksi ilmiah. Teknologi sudah memungkinkan. Dengan memanfaatkan data lokasi (GPS atau IP) untuk mengetahui waktu lokal pengguna, platform bisa menampilkan konten yang "tepat waktu" secara psikologis.
Refleksi: Selera Bukan Hal Tetap, Termasuk Selera Visual
Sering kita menganggap selera adalah bagian dari identitas yang tetap. "Aku tipe orang yang suka warna biru," kata kita.
Penelitian ini membantah anggapan itu. Selera visual ternyata mengikuti ritme tubuh dan waktu. Ini mengingatkan kita bahwa banyak hal dalam hidup — bahkan yang terlihat sekecil pilihan warna — sebenarnya adalah cerminan kondisi batin kita saat itu.
Jadi, lain kali kamu scroll aplikasi travel, coba perhatikan: apa yang kamu pilih sekarang, apakah masih akan kamu pilih 12 jam lagi?
Tidak ada yang salah dengan salah satu pilihan. Keduanya valid. Tapi dengan memahami pola ini, kamu bisa membuat keputusan yang lebih sadar.
Dan siapa tahu, mungkin kamu akan menemukan hotel impianmu bukan karena fotonya, tapi karena waktu yang tepat.
Apa pengalamanmu soal ini?
Pernahkah kamu merasa pilihanmu berbeda antara memesan pagi dan malam? Atau justru kamu termasuk yang konsisten? Tulis di kolom komentar, saya penasaran! Jangan lupa follow profil ini untuk lebih banyak artikel seru tentang psikologi sehari-hari dan perilaku konsumen.
📚 Sumber & Referensi
Wang, L., & Li, S. (2027). The temporal shift in consumer hue preferences in hotel booking. Tourism Management, 118, 105481.
Data penelitian melibatkan 5 studi eksperimental dengan total 1.402 partisipan, analisis 4.510 foto hotel, dan kombinasi metode eye-tracking, eksperimen daring terdaftar, serta survei lapangan.
Download Paper : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0261517726000919