Membantu warga miskin atau membunuh usaha kecil? Sebuah eksperimen kebijakan publik yang sedang diuji di kota termahal di Amerika.
Saya baru saja membaca berita yang bikin saya mikir keras. Bayangkan, di kota semahal New York, pemerintah akan membangun supermarket sendiri dan menjual bahan pokok dengan diskon 30% lebih murah dari toko biasa.
Kedengarannya seperti ide bagus, kan? Apalagi buat saya yang setiap minggu selalu deg-degan lihat harga telur atau susu naik lagi. Tapi kalau dipikir lebih dalam, ada cerita yang lebih rumit di balik angka-angka ini.
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, benar-benar serius dengan program NYC Groceries ini. Mereka sudah siapkan dana $70 juta (sekitar Rp 1,26 triliun) dan targetkan toko pertama buka akhir 2027 di Bronx, salah satu kawasan dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi.
Program ini memang menjanjikan. Pemerintah kota menghitung, rata-rata keluarga di New York bisa hemat sekitar $90 per bulan atau $1.000 per tahun dari diskon 30% ini. Bayangkan, buat saya yang tinggal di Indonesia, Rp 1,6 juta per bulan itu bukan uang kecil.
Tapi di sinilah ceritanya mulai menarik...
Mengapa New York Nekat Bikin Toko Sendiri?
Harga pangan di Amerika naik 33% sejak 2019. Saya coba bayangkan, beras di pasar naik sepertiga dalam 6 tahun. Bisa kiamat ekonomi buat saya dan keluarga.
Di New York, situasinya bahkan lebih parah. 80% warga khawatir dengan kenaikan harga pangan, dan lebih dari 40% keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Di Bronx, lokasi toko pertama, angkanya mencapai 77% rumah tangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Ini yang mendorong Mamdani—yang dikenal sebagai politisi dengan ide-ide progresif—untuk mengambil langkah drastis. Dia ingin pemerintah kota tidak hanya memberi insentif, tapi turun langsung ke pasar.
"Perjalanan ke toko bahan makanan seharusnya tidak menimbulkan rasa takut bagi warga New York," kata Mamdani dalam konferensi persnya. "Di kota terkaya, di negara terkaya dalam sejarah dunia, tidak ada warga New York yang seharusnya khawatir tidak mampu memberi makan keluarga mereka."
Kata-katanya kuat, dan data menunjukkan masalahnya nyata.
Bagaimana Mekanisme Toko Ini Bekerja?
Program ini sebenarnya cerdik dalam desainnya. Pemerintah kota menyediakan lahan dan menggratiskan sewa serta pajak properti. Tapi operasional sehari-hari diserahkan ke operator swasta yang dipilih lewat lelang.
Ini penting. Pemerintah tidak mau repot mengatur stok, gaji karyawan, dan semua kerumitan bisnis ritel. Mereka hanya mengatur harga dan standar, sementara perusahaan swasta yang punya pengalaman menjalankan tokonya.
Diskon 30% berlaku untuk berbagai produk:
Buah dan sayuran segar
Daging dan makanan laut
Susu, telur, keju
Sekitar 20 kategori bahan pokok lainnya
Yang menarik, harga akan diperbarui setiap bulan, bukan setiap minggu seperti di supermarket biasa. Ini memberikan kepastian buat konsumen. Tidak ada lagi kejutan harga naik tiba-tiba.
Semua orang bisa belanja di sini, tanpa melihat tingkat pendapatan. Dan toko ini juga menerima SNAP—kartu bantuan pangan pemerintah federal.
Yang Bikin Kontroversi: Warung Kecil Terancam
Saya paling suka belanja di warung kecil dekat rumah. Tokonya pemiliknya ramah, barangnya cukup, dan ada rasa kekeluargaan. Di New York, ada sekitar 13.000 bodega—toko kelontong kecil yang ikonik, dikelola oleh imigran dari berbagai negara.
Mereka panik mendengar kabar ini.
Kenapa? Karena margin keuntungan toko kelontong biasanya hanya 1-3%. Bayangkan, dari penjualan $100, bersihnya cuma $1-$3. Dengan diskon 30% yang ditawarkan toko kota, bodega sama sekali tidak punya ruang untuk bersaing.
Seorang pemilik bodega yang sudah berbisnis sejak 1994 mengatakan bahwa toko kota akan menempatkannya di luar bisnis. Di New York, cerita ini bukan isapan jempol. Banyak bodega dioperasikan oleh keluarga imigran yang mengandalkan toko mereka sebagai satu-satunya sumber pendapatan.
Mamdani mencoba menenangkan dengan mengatakan toko kota tidak akan menjual makanan panas, bir, atau rokok—produk-produk yang biasanya menjadi andalan bodega untuk bertahan. "Kami tidak bermaksud bersaing dengan toko kelontong atau supermarket dalam hal kemampuan mereka untuk bertahan hidup," katanya.
Tapi argumen ini diragukan banyak pihak. Konsumen tetap akan memilih yang lebih murah, dan diskon 30% untuk kebutuhan pokok adalah daya tarik yang sangat kuat.
Warung kecil di NYC di sebut Bodega. Sumber : https://www.npr.org/sections/codeswitch/2017/03/10/518376170/new-york-city-bodegas-and-the-generations-who-love-them
Contoh Bodega / Warung Kecil di Kota New York. Sumber : https://www.bbc.com/travel/article/20231005-bodegas-the-small-corner-shops-that-run-nyc
Nah, ini pertanyaan paling krusial. Siapa yang menanggung biaya diskon 30%? Jawabannya: pembayar pajak.
Margin toko kelontong 1-3% membuat diskon 30% mustahil ditutup hanya dengan menghilangkan sewa dan pajak. Selisihnya harus disubsidi dari APBD Kota New York.
Pemerintah kota mengalokasikan $70 juta dari anggaran modal untuk membangun 5 toko. Tapi itu baru biaya pembangunan. Biaya operasional jangka panjang—yang akan menutup selisih diskon setiap hari—masih tidak jelas. Inilah yang membuat kelompok pengawas fiskal seperti Citizens Budget Commission khawatir.
Mereka menyerukan analisis publik yang lebih transparan tentang biaya program, dampaknya terhadap toko swasta, dan bagaimana kota bisa mengatasi akar penyebab kenaikan harga pangan.
Mamdani sendiri pernah berkata, "Jika tidak berhasil, maka idenya salah." Tapi siapa yang akan menanggung biaya jika program ini ternyata gagal? Yang pasti bukan orang kaya.
Apa yang Bisa Terjadi ke Depan?
Skenario terbaik: Program berhasil. 5 toko beroperasi, warga hemat $90/bulan, dan tekanan pada toko swasta bisa diminimalkan dengan diferensiasi produk. Model ini kemudian direplikasi di kota-kota lain di Amerika.
Skenario terburuk: Bodega gulung tikar, penawaran pangan berkurang, harga pasar naik, dan diskon 30% yang tadinya membuat susu dari $4 menjadi $2.80—mungkin hanya berarti susu dijual dengan harga $4.20 setelah harga pasar naik ke $6. Ironis.
Apalagi, sejarah menunjukkan toko kelontong milik pemerintah di Baldwin, Florida, dan Erie, Kansas, tutup pada 2024 karena masalah keuangan. Chicago dan Kansas City juga gagal meluncurkan program serupa. Ini bukan pertama kalinya ide ini dicoba.
Refleksi: Antara Solusi dan Ancaman
Program NYC Groceries ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini adalah jawaban atas krisis pangan yang nyata—80% warga khawatir, 40% kesulitan membayar belanja. Inflasi 33% sejak 2019 bukan angka main-main.
Di sisi lain, intervensi pasar selalu punya konsekuensi. Ketika pemerintah masuk sebagai pesaing langsung, usaha kecil yang sudah berjuang dengan margin tipis akan tersingkir. Dan pada akhirnya, pembayar pajak yang menanggung biayanya.
Buat saya, ini mengingatkan pada dilema besar dalam kebijakan publik: bagaimana membantu masyarakat tanpa merusak ekosistem yang sudah ada? Apakah solusi jangka pendek yang meringankan beban hari ini justru menciptakan masalah lebih besar di masa depan?
Apakah Anda setuju dengan langkah pemerintah yang turun langsung ke pasar, atau lebih baik memberi bantuan langsung seperti voucher dan memperbaiki regulasi agar semua toko bisa lebih murah? Atau mungkin ada jalan tengah yang belum terpikirkan?
Referensi:
Kompas.com, "New York Buka Supermarket Pemerintah NYC Groceries, Ada Diskon 30 Persen," 31 Juli 2026.
CNBC Indonesia, "New York Obral Sembako Murah, Daging-Telur-Susu Diskon 30%," 28 Juli 2026.
La Nación, "Confirmado por Mamdani: las cinco tiendas municipales que aceptarán SNAP y prometen ahorrar US$90 al mes," 30 Juli 2026.
Business Insider Taiwan, "節省30%開支與紐約自有品牌 馬姆達尼推動城市公營超市要點導覽," 29 Juli 2026.