Sabtu malam, 27 Juni 2026, di kawasan padat Manggarai, Jakarta Selatan. Saat mayoritas penduduk kota bersiap beristirahat, seorang ibu penjual es teh masih harus berdiri di pinggir jalan. Ia bekerja hampir mendekati tengah malam demi beberapa lembar rupiah untuk esok hari.
Ia tidak sendirian. Di dekatnya, anak laki-lakinya yang baru berusia 3–4 tahun ikut menemaninya. Karena perhatian sang ibu terbelah antara melayani pembeli dan rasa lelah, balita tersebut mencari dunianya sendiri dan bermain terlalu jauh. Ia terperosok ke dalam lubang di sebuah area terbuka dan nyawanya tak tertolong, meski sudah berjam-jam dievakuasi.
Respon pertama banyak orang sering kali menghakimi: "Kenapa ibunya lalai?" atau "Kenapa anak sekecil itu diajak kerja malam-malam?"
Namun, jika kita mundur selangkah dan membedah anatomi kejadian ini, kematian balita malang itu bukan sekadar akibat kelalaian tunggal. Ini adalah puncak gunung es dari sistem kesejahteraan sosial kita yang gagal melindungi mereka yang berada di titik terendah.
Pilihan yang Tak Manusiawi bagi Pekerja Informal
Mari kita bicara soal perilaku manusia yang terdesak oleh keadaan. Jika Anda punya cukup uang, Anda pasti akan menitipkan anak Anda di daycare atau menyewa pengasuh. Setidaknya, Anda akan menitipkannya pada kerabat di rumah yang hangat dan aman.
Bagi ribuan ibu seperti penjual es teh di Manggarai, opsi-opsi itu tidak pernah ada di menu kehidupan mereka. Penghasilan harian mereka sering kali hanya pas untuk makan hari itu saja. Tidak ada uang ekstra, tidak ada keluarga yang bisa diandalkan.
Mereka dihadapkan pada pilihan yang tak manusiawi: bekerja membawa anak di tengah malam, atau diam di rumah tapi besok kelaparan. Membawa balita ikut berjualan di jalanan ibarat berjalan di atas seutas tali tanpa jaring pengaman di bawahnya. Sedikit saja angin berhembus—atau dalam hal ini, sedikit saja ibu lengah karena melayani pembeli—keseimbangannya hancur berantakan.
Mengapa Jaring Pengaman Sosial Kita Kebobolan?
Tragedi ini mempertontonkan lubang besar dalam kebijakan perlindungan sosial kita. Sebuah negara yang kuat seharusnya tidak membiarkan warganya harus memilih antara keselamatan anak dan sesuap nasi.
Seorang ibu yang harus bekerja sampai tengah malam sambil mengawasi balita adalah gambaran nyata dari lemahnya jaring pengaman sosial. Negara sejatinya belum berhasil menyediakan:
Fasilitas pengasuhan anak yang terjangkau (atau gratis) bagi keluarga prasejahtera, terutama untuk mereka yang terpaksa bekerja di luar jam normal.
Bantuan sosial yang berdaya tahan, sehingga seorang ibu tunggal atau keluarga miskin tidak perlu bekerja dalam kondisi yang ekstrem dan membahayakan nyawa.
Ruang publik yang ramah anak di kawasan padat penduduk, sehingga anak-anak dari pekerja sektor informal tidak menjadikan area berbahaya sebagai satu-satunya "taman bermain" mereka.
Akibatnya, anak-anak dari keluarga miskin menerima beban ganda: mereka ikut menderita karena kemiskinan struktural orang tuanya, dan kemudian menjadi korban dari tidak adanya infrastruktur sosial yang melindungi mereka.
Implikasi: Kemiskinan Adalah Bom Waktu
Banyak yang bertanya, "Kenapa anaknya main ke situ?"
Jawabannya menyakitkan karena ia sangat sederhana: Karena ibunya sedang bertarung melawan kemiskinan. Karena tidak ada orang dewasa yang punya privilese waktu luang untuk mengawasinya secara penuh.
Di negara-negara yang kebijakan sosialnya mapan, kasus seperti ini jauh lebih jarang terjadi. Bukan karena penduduknya lebih pintar menjaga anak, melainkan karena sistemnya menopang warganya agar tidak jatuh terlalu dalam. Bantuan disalurkan tepat sasaran, pekerja informal dilindungi, dan fasilitas penitipan anak disubsidi.
Jika kita membiarkan sistem bantuan sosial dan perlindungan pekerja informal kita berjalan seadanya seperti sekarang, maka kemiskinan akan terus menjadi bom waktu. Hari ini mungkin di Manggarai, besok bisa di mana saja.