Dari Ruang Kuliah ke Lapangan Latihan: Refleksi Mendalam tentang Hilangnya Kepastian di Dunia Kerja Modern
Dari Ruang Kuliah ke Lapangan Latihan: Refleksi Mendalam tentang Hilangnya Kepastian di Dunia Kerja Modern
Sebuah obrolan santai tentang nilai gelar akademik hari ini dan bagaimana anak muda beradaptasi mencari kepastian di tengah bursa kerja yang terus berubah.
Beberapa hari lalu, saat sedang santai menggulir linimasa X (Twitter), mata saya tertumbuk pada sebuah video amatir yang sukses bikin hati agak nyesek.
Di video itu, tampak suasana seleksi prajurit militer. Tapi ada satu yang bikin heboh: seorang pemuda bergelar S1 Ilmu Komputer tertangkap kamera sedang ikut seleksi Calon Tamtama TNI Angkatan Laut (AL).
Bagi saya, video ini menampilkan sebuah ironi visual yang tajam. Di atas kertas, seorang sarjana teknologi seharusnya sedang duduk di ruangan ber-AC, memelototi barisan kode programming, dan membangun masa depan digital kita. Tapi di realitas layar, ia justru sedang bersiap menelan kerasnya tempaan fisik maritim di posisi prajurit paling dasar—posisi yang sebenarnya dirancang untuk mereka yang baru lulus SMA.
Komentar warganet, seperti biasa, langsung pecah. Ada yang salut dengan patriotismenya, tapi tak sedikit yang gemas. "Sayang banget ijazahnya!" atau "Ini sih overqualified, kenapa nggak daftar Perwira aja?"
Jujur, kalau kita cuma melihat ini sebagai urusan "pilihan hidup" atau "cinta tanah air", rasanya kita kurang dalam menggali. Mari kita letakkan sejenak kacamata emosional kita. Untuk paham kenapa hal ini bisa terjadi, kita perlu meminjam pisau analisis dari dua kenyataan pahit di lapangan: Inflasi Ijazah dan Kejamnya Antrean Pekerjaan.
Saat Gelar Sarjana Mulai Kehilangan Taringnya
Coba bayangkan Anda memegang uang selembar seratus ribu rupiah. Belasan tahun lalu, uang segitu bisa buat mentraktir makan enak lima orang teman. Sekarang? Mungkin cuma cukup buat ngopi dan makan sendirian. Nilainya menyusut drastis karena inflasi.
Nah, hal yang sama persis sedang terjadi pada ijazah kita. Para sosiolog menyebutnya Inflasi Kredensial.
Sekarang ini, kampus-kampus mencetak jutaan sarjana setiap tahun. Pasokan ijazah membanjiri pasar bagai brosur kredit motor. Akibatnya? Gelar "S1 Komputer" yang dulu rasanya sekeren tiket VIP, sekarang luntur pesonanya.
Perusahaan tak lagi melihat ijazah S1 sebagai bukti kehebatan istimewa. Itu cuma syarat administrasi paling standar. Syarat mutlaknya kini bergeser: harus punya pengalaman kerja 3 tahun, portofolio mentereng, atau sertifikasi internasional. Buat fresh graduate yang belum punya "mata uang ekstra" ini, ijazah S1 mereka mendadak tak laku di kerasnya bursa kerja swasta.
Audisi Kehidupan dan Panjangnya Antrean Kerja
Setelah sadar ijazahnya tak sesakti omongan orang zaman dulu, sang pemuda di video ini harus berhadapan dengan realitas kedua: Teori Antrean Pekerjaan (Job Queue Theory).
Ada satu hukum besi di dunia kerja nyata: perusahaan itu sebenarnya tidak mencari orang yang paling pintar. Mereka mencari orang yang paling murah dan gampang diajari.
Sekarang, industri teknologi sedang lesu (tech winter), dan pekerjaan kantoran biasa perlahan digilas Artificial Intelligence. Lowongan kerja impian sang sarjana makin langka. Awalnya, ia mungkin mengantre untuk kursi Software Engineer. Tapi karena kursinya habis atau perusahaannya tutup, perutnya kan tidak bisa disuruh puasa menunggu ekonomi membaik.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati (dan keputusasaan), ia mundur. Ia ikut antrean di kursi tingkat menengah ke bawah demi bisa menyambung hidup.
Seorang lulusan S1 Komputer mendaftar menjadi Tamtama TNI AL
Bertemu di Barak Angkatan Laut: Sebuah Pilihan Rasional
Di titik inilah, segala teori tadi bertabrakan dan terekam sempurna dalam video pendaftaran Tamtama AL tersebut.
Sang pemuda sadar betul, bersaing di sektor swasta—meski cuma buat jadi admin—kini sangat berisiko. Swasta rawan PHK dan jarang ngasih kepastian masa tua. Maka, insting bertahan hidupnya mengarah ke institusi yang tak pernah bangkrut: Negara.
Mari kita lihat simbiosis ini dari dua sisi yang sangat masuk akal:
Bagi TNI AL: Kapal perang modern sekarang itu isinya komputer, radar digital, dan sistem siber. Mendapat calon prajurit Tamtama yang otaknya sudah "diformat" dengan logika S1 Komputer adalah durian runtuh. Biaya untuk mengajari pemuda ini mengoperasikan sistem navigasi kapal jauh lebih murah dan cepat ketimbang melatih lulusan SMA dari nol. Sang S1, otomatis dapat antrean VIP di mata panitia seleksi.
Bagi Sang Sarjana: Ia tahu ijazah S1-nya mungkin tak cukup kuat menembus jalur Perwira yang kuotanya super langka dan elitis. Jadi, jalur Tamtama—biarpun itu pangkat paling bawah—adalah pintu masuk paling logis untuk mengamankan status abdi negara, gaji bulanan, asuransi, dan yang terpenting: pensiun.
Domino yang Jatuh ke Desa-Desa
Sekilas, video ini mungkin memancarkan aura pantang menyerah. Tapi, kalau kita amati lebih jernih, ada efek domino yang ngilu rasanya. Kita menyebutnya efek Bumping Down (gusuran ke bawah).
Coba bayangkan anak-anak muda dari desa. Mereka yang bermodal ijazah SMA, yang sudah berbulan-bulan lari keliling lapangan dan push-up tiap sore demi meraih mimpi mobilitas sosial lewat jalur Tamtama. Tiba-tiba, kursi yang sejatinya untuk mereka itu, harus direbut oleh para sarjana IT, sarjana hukum, atau sarjana ekonomi dari kota yang rela "turun kasta".
Kelompok anak muda berpendidikan menengah ini akhirnya tersingkir. Mereka terlempar ke sektor informal yang tak punya jaring pengaman sosial, atau diam di desa menjadi pengangguran. Ini adalah persaingan kanibalistis yang tak kasat mata, di mana yang di atas terpaksa memangsa jatah yang di bawahnya.
Refleksi: Bertahan Hidup di Tengah Sistem yang Sedang Sakit
Melihat pemuda S1 Ilmu Komputer bersiap memanggul senjata dalam seleksi Tamtama TNI AL seharusnya tak cuma bikin kita kagum. Video itu adalah alarm yang melengking keras.
Ia adalah gejala dari sistem ketenagakerjaan kita yang sedang demam tinggi. Ketika gelar akademik dicetak massal tanpa ada cetak biru industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja yang layak, ijazah pada akhirnya cuma jadi selembar kertas.
Dalam kondisi seperti itu, antrean pencari kerja berubah menjadi arena survival. Orang tak lagi bicara gengsi ijazah, tapi bicara bagaimana besok dapur tetap mengepul. Dan di arena itu, menelan gengsi bulat-bulat adalah cara paling berani untuk merawat kehidupan
Context : https://x.com/santanmambu/status/2079771940617953475?s=20