Beberapa waktu lalu, saya bertemu teman lama. Ia lulusan S1 teknik dari kampus ternama dengan IPK di atas rata-rata. Namun dalam pertemuan itu, ia bercerita tentang beratnya perjuangan ekonominya saat ini. Ia harus menerima pekerjaan apa pun yang tersedia agar keluarganya tetap bertahan. Saya jadi teringat kenalan lain yang hanya lulusan SMA, tapi kini sukses mengembangkan usaha properti dan menikmati hidup yang lebih mapan.
Saya jadi bertanya-tanya. Bukankah selama ini kita diajari bahwa pendidikan tinggi adalah jalan pintas keluar dari kemiskinan? Lalu kenapa kenyataannya banyak sarjana yang justru tersangkut di jurang kemiskinan struktural?
Saya coba cari jawabannya, dan saya menemukan sebuah riset dari MIT Technology Review yang mengubah cara pandang saya tentang kesuksesan. Ternyata, orang yang paling sukses di dunia ini bukanlah orang yang paling berbakat atau paling berpendidikan, melainkan orang yang paling beruntung. Tapi tunggu dulu, ada satu syarat besar yang jarang dibicarakan: kamu harus punya modal untuk menangkap keberuntungan itu.
Mari kita mulai dari teka-teki dasar. Para ilmuwan dari Universitas Catania, Italia, yang dipimpin Alessandro Pluchino, melihat sebuah keanehan. Bakat dan kecerdasan manusia itu terdistribusi secara normal, seperti kurva lonceng. Artinya, kebanyakan orang punya kecerdasan sedang, hanya sedikit yang super jenius, dan hanya sedikit yang di bawah rata-rata.
Tapi anehnya, distribusi kekayaan di dunia tidak seperti itu. Kekayaan mengikuti aturan 80-20: 20 persen orang menguasai 80 persen harta. Bahkan, ada orang yang kekayaannya miliaran kali lipat dari orang lain. Padahal, tidak ada manusia yang punya IQ miliaran kali lebih tinggi dari yang lain.
Nah, tim peneliti ini lalu membuat simulasi komputer untuk menjawab pertanyaan klasik: "Kalau lo pinter, kenapa lo gak kaya?"
Mereka mensimulasikan ribuan orang selama 40 tahun karir. Dalam simulasi itu, ada yang namanya peristiwa keberuntungan (misalnya dapat tawaran proyek besar atau bertemu investor) dan peristiwa kesialan (misalnya kena PHK atau usaha bangkrut). Semua peristiwa ini terjadi secara acak kepada semua orang.
Hasilnya bikin saya melongo. Orang-orang yang mencapai puncak kesuksesan dalam simulasi itu bukanlah yang paling berbakat. Mereka yang paling sukses adalah mereka yang kebetulan mendapatkan momen keberuntungan paling banyak. Sementara yang paling gagal adalah mereka yang paling sering kena musibah.
"Orang paling sukses bukan yang paling berbakat, tapi yang paling beruntung."
--- Tim Peneliti Universitas Catania
Di sinilah saya jadi teringat simulasi yang pernah saya coba buat sendiri tentang goodluck-badluck. Dalam simulasi saya, saya asumsikan bahwa secara fair, semua orang mendapatkan jumlah keberuntungan dan kesialan yang sama persis selama hidupnya. Tidak ada yang diistimewakan.
Lalu kenapa hasil akhirnya tetap timpang?
Jawabannya ada di satu kata: Kapital.
Dalam simulasi saya, saya membagi orang menjadi dua kelompok besar:
Kelompok yang sudah siap secara kapital. Mereka punya tabungan, punya ijazah sebagai akses, punya mental yang tenang karena tidak dikejar utang, dan punya jaringan pertemanan yang luas.
Kelompok yang tidak punya kapital. Mereka kebanyakan adalah masyarakat miskin struktural. Mungkin mereka juga lulusan S1, bahkan cum laude. Tapi mereka tidak punya uang dingin, tidak punya koneksi, dan hidup di bawah tekanan ekonomi setiap hari.
Saat momentum keberuntungan datang, misalnya tawaran kerja bagus atau ide bisnis potensial, kelompok pertama langsung tancap gas. Mereka pakai tabungan untuk modal, pakai koneksi untuk promosi, dan punya waktu untuk fokus.
Tapi kelompok kedua? Mereka cuma bisa melihat luck itu lewat. Mereka tidak bisa ambil tawaran proyek karena tidak punya biaya transportasi untuk meeting. Mereka tidak bisa memulai usaha karena tidak punya modal awal. Mereka bahkan tidak bisa mengikuti pelatihan gratis karena harus lembur cari nafkah.
Akibatnya, keberuntungan itu hanya jadi angin lalu. Lewat begitu saja, lalu diambil oleh orang lain yang kebetulan sudah siap.
Kembali ke pertanyaan besar kita: kenapa ijazah S1 tidak cukup untuk keluar dari kemiskinan struktural?
Karena ijazah S1 hanyalah salah satu bentuk kapital. Dia adalah modal pengetahuan. Tapi untuk mengubah pengetahuan menjadi kekayaan, kamu butuh tiga modal lainnya:
Kapital Finansial (Uang). Butuh uang untuk memulai usaha, biaya hidup saat transisi karir, atau biaya sertifikasi tambahan. Tanpa uang, ijazah cuma selembar kertas sakral yang menganggur.
Kapital Sosial (Jaringan). Banyak lowongan pekerjaan dan peluang bisnis tidak pernah diumumkan ke publik. Mereka didapat lewat "belakang layar", siapa kenal siapa. Anak orang kaya punya akses ini dari lahir. Anak miskin harus berjuang ekstra untuk membangunnya.
Kapital Mental (Kepala Dingin). Ini yang paling tidak kelihatan tapi paling krusial. Orang yang hidup di bawah garis kemiskinan biasanya terjebak dalam scarcity mindset, pikiran yang cuma fokus bertahan hidup hari ini dan tidak bisa merencanakan masa depan. Sulit banget berpikir strategis kalau perut lapar dan tagihan menumpuk.
Di sinilah kemiskinan struktural terjadi. Struktur sosial kita tidak memberi akses yang sama terhadap tiga modal ini. Masyarakat miskin bukan cuma kekurangan uang. Mereka kekurangan kesempatan untuk memanfaatkan kesempatan.
Ini pertanyaan yang paling sensitif. Selama ini kita sering menyalahkan orang miskin. "Kamu miskin karena kamu malas." "Kamu miskin karena kamu tidak mau belajar."
Tapi setelah melihat data simulasi ini, saya jadi berpikir ulang.
Riset dari MIT bahkan menambahkan temuan menarik. Dalam simulasi pendanaan riset, mereka menemukan bahwa strategi terbaik bukanlah memberi uang ke peneliti yang sudah pernah sukses. Memberi pendanaan secara merata atau bahkan acak ternyata menghasilkan dampak yang lebih besar. Kenapa? Karena kesuksesan masa lalu ternyata bukan prediktor yang akurat untuk kesuksesan masa depan.
Artinya, meritokrasi itu sebagian besar adalah ilusi. Kita hidup di dunia di mana keberuntungan memegang peranan besar, tapi akses untuk menangkap keberuntungan itu didesain secara tidak adil.
Bayangkan jika pemerintah dan masyarakat lebih sadar akan hal ini. Kita tidak akan bertanya lagi, "Kalau lo pinter, kenapa lo gak kaya?" Tapi kita akan bertanya, "Kenapa struktur sosial kita masih membiarkan orang-orang berbakat terjebak, tanpa akses ke modal yang mereka butuhkan?"
Saya bukan bilang pendidikan itu tidak penting. Saya lulusan S1 juga, dan saya tahu betul ilmu yang saya dapat membuka wawasan saya. Tapi saya juga cukup jujur untuk mengakui, keberuntungan saya bisa memanfaatkan ijazah itu karena saya punya privilese lain yang mendukung. Saya tidak perlu mikirin makan besok, saya punya keluarga yang mendukung, dan saya punya akses ke internet untuk belajar hal lain.
Nah, jutaan anak muda di luar sana mungkin lebih pintar dari saya, tapi mereka harus berjuang melawan arus struktural yang jauh lebih deras.
Kita perlu berhenti menganggap kemiskinan sebagai kegagalan moral individu. Kita perlu mulai melihatnya sebagai kegagalan desain sistem yang tidak mendistribusikan akses modal secara merata.
Kalau kita mau serius memberantas kemiskinan struktural, kita tidak bisa cuma kasih beasiswa lalu berharap semuanya beres. Kita juga harus memberikan jaring pengaman finansial, akses jaringan yang inklusif, dan ruang mental yang cukup bagi mereka yang selama ini hanya bisa melihat peluang lewat di depan mata, tanpa kuasa untuk meraihnya.
MIT Technology Review (2018) -- "If you're so smart, why aren't you rich? Turns out it's just chance"
https://www.technologyreview.com/2018/03/01/144958/if-youre-so-smart-why-arent-you-rich-turns-out-its-just-chance/
Pluchino, A., Biondo, A.E., & Rapisarda, A. (2018) -- "Talent vs Luck: The Role of Randomness in Success and Failure"
http://arxiv.org/abs/1802.07068